Posts

Showing posts from July, 2017

Aku sayang sama kupu-kupu

Image
Ilustrasi kupu-kupu Sebagaimana biasa, hari itu sesi bermain kami di halaman rumah. Ketika saya menyebut halaman, mohon jangan dibayangkan halaman yang luaaas macam di film-film jaman dulu hehehe. Walau cuma "seuprit", alhamdulillah kami punya petak kecil halaman berumput di depan rumah. Hari itu sungguh cerah. Qodarullah ada tanaman berbunga kecil-kecil yang sedang mekar di halaman. Sampai sekarang saya ndak tahu apa nama tanaman ini. Namun demikian saya sungguh suka tanaman ini sebab hampir tak pernah berhenti berbunga. Kadang-kadang Faiq memetik bunganya lalu diberikannya pada saya sebagai hadiah. Aduuh manisnya anakkuu hehehe.. Nah, yang lebih menyenangkan lagi, karena selalu berbunga maka setiap hari halaman kami selalu dikunjungi berbagai kupu-kupu yang lucu yang hinggap disana. Seperti hari itu, beberapa kupu-kupu hinggap disana. Kami duduk bersila di teras. Saya pun mulai bernyanyi yang lalu dilanjutkan oleh Faiq Kupu-kupu yang lucu, kemana engkau ...

Tek kotek kotek koteeek

Hari itu sebagaimana biasa, jadwal kami bercengkrama (baca: saya dan Faiq). Namun tentu saja kali ini keadaannya berbeda dengan kehadiran adiknya. Sesi bonding kami saat ini diselingi kegiatan mengganti popok adiknya yang sudah penuh. Karena tak mungkin membacakan buku sembari mengganti popok, maka saya mengisinya dengan bernyanyi. Kak, nyanyi lagu apa nih kita? Lagu tikus dong bunda. Tikus? Sepertinya ndak ada mas lagu tentang tikus. Atau bunda yg lupa mungkin. Yaaaah... Ya udah deh lagu ayam ada gak? Ayam ya? Ahhhh ada kak.. ayok nyanyii. Dengar bunda yah? Tek kotek kotek kotek, anak ayam turun berkotek. Anak ayam turunnya 5 Pergi satu tinggallah 4 Tek kotek kotek kotek, anak ayam turun berkotek. Anak ayam turunnya 4 Pergi satu tinggallah?  Ayo berapa kak? Hmm.. tinggal 3 bundaaa!! Ihhh pintarnya anak bundaa.. lanjut yaaah? Tek kotek kotek kotek, anak ayam turun berkotek. Anak ayam turunnya 3 Pergi satu tinggallah? 2 bundaaaaa! Good kak! Tek ko...

Berapa lagi yang harus dibeli?

Image
Hari itu jadwalnya saya belanja bulanan ke sebuah supermarket di Bogor. Saya mengajak Faiq untuk menemani saya kesana sekaligus menyenangkan hatinya untuk pergi berdua dan menguatkan ikatan kami yang terasa lebih penting setelah kehadiran adiknya. Sebelumnya, saya sibuk menyiapkan stoK ASI untuk diminum adik Aliisya selama kepergian saya ke supermarket. Eyang Uti nya lah yang akan menjaga Aliisya di rumah. Setelah dirasa cukup, kami pun berangkat. Seperti biasa, Faiq naik troli belanja selama di supermarket. Ini menguntungkan bagi saya karena saya jadi tak perlu khawatir kehilangan dia. Ketika hampir sampai di lorong mainan anak, saya sertamerta mengajak troli mengebut, agar Faiq tak meminta mainan. Ehhh ketika sudah lewat lorong mainan, malah muncul si Thomas Minis di depan muka kami hahaha Berhubung sudah kadung janji pada Faiq, maka saya belikanlah si minis itu. Sesampai di rumah, langsung dibukanya mainannya dan dia kumpulkan di dalam tas minisnya. Saat ayahnya pulang, ia...

Wiih gerbongnya panjaaaaang!

Image
Sudah bukan rahasia lagi, kakak Faiq nge-fans berat dengan kereta api dan sejenisnya. Ia akan selalu antusias melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan kereta api. Oleh karena itu, saat selesai mandi sore tadi, sembari mengawasinya memakai baju dan menyusui adiknya, saya iseng membahas stiker dinding di kamarnya. Stiker dinding gambar kereta di kamar Faiq "Eh kak, bunda kok baru sadar ya, itu gerbong si kereta di dinding kamu panjang sekali yaaa?" "Iya bunda, namanya juga keretaaaa, bunda lupa ya?" "Iya ih kak, lupa bunda. Ada dua baris tuh kak. Baris atas ada berapa sih gerbongnya?" (Mulai menghitung) "1, 2, 3, 4, 5. Ada 5 bundaaaa gerbongnyaaa!" "Wauuw hebaaat!! Betul sekali kak! Eh kak, gerbong paling belakang tuh, yang warna ungu, ditempati oleh berapa binatang kak?" "Cuma satu, bunda, si gajah aja." "EH IYA benaar, bunda pikir disitu ada tikusnya hahaha ternyata bunda salah lihat...

Berapa jumlah rambutmu?

Matematika Haduuuuuhh beberapa tahun lalu saya mesti meriang dengar kata matematika. Yang terbayang dalam benak saya hanya simbol-simbol mengerikan yang harus dipecahkan serta begitu menjebak, berakhir dengan nilai jeblok 😂😂 Mereka yang kenal saya pasti tahu berapa angka matematika saya saat EBTANAS SMA dahulu (haduh, ketahuan ya umurnya? Masih ada ebtanas wkwkw). Berapa nilai matematika saya? Ah sudahlah, malu ngingatnya 😅😅. Saya cuma bisa bilang, kalau keadaannya di jaman UN sekarang, saya mah udah nggak bakal lulus itu UN 😂 Untuuung itu di jaman dulu dimana nilai ebtanas nggak menentukan kelulusan hahahah. Mungkin kalau saya ndak lulus, jalan kehidupan saya nggak akan seasyik sekarang. Walau saya tetap lulus SMA dengan nilai "keluarga berencana" itu (nah ketebak kan berapa?), Matematika tetap jadi momok menakutkan dalam hidup saya. Sampaiii tibalah game level 6 di kelas bunda sayang IIP muncul. Tebaaak apa temanya? Tentu saja matematika 😂 Saya berteka...

Aliran Rasa Level 5

Berperan aktif; ya.. itu yang saya pelajari selama terjun belajar di IIP. Harus jadi bagian dari perubahan, bukan tempatnya lagi sekadar mengeluh meratapi keadaan yang mungkin tidak menyenangkan. Seperti saat ini, disaat gempuran gawai bagi balita dan anak-anak begitu marak hingga menggerus asyiknya bermain di pekarangan atau serunya berimajinasi bersama buku yang dibaca anak, bukan saatnya lagi kita mengeluh. Ambil bagian! Mari berperan aktif!! Game level 5 kali ini sesungguhnya bagi saya yang paling menyenangkan karena sesuai dengan minat kami dirumah: membaca. Kami sudah membiasakan sesi membaca setiap hari bahkan sejak Faiq baru lahir. Dan sungguh saya merasakan manfaatnya. Imajinasinya berkembang baik, nalar dan daya tangkapnya alhamdulillah baik. Belum lagi artikulasi bahasanya yang, masya Allah segala puji bagiNya, menurut banyak orang begitu baik. Semua karena sesi membaca ini.. oleh karena itu saya begitu bergembira dengan adanya game ini. Walau di tengah ...