Posts

Showing posts from September, 2017

Aku habiskan kok bekalnya

Faiq saat ini sedang asyik ikut beemain sementara di TK dekat rumah Uti. Dia ternyata menikmati sekali datang ke aekolah bermain dan makan bersama teman. Setiap hari saya buatkan bekal untuknya. Makanan ringan saja, sebab toh jam 9.30 sudah pulang. Di rumah sudah sarapan berat. Namun sayangnya sudah 2 hari saya bawakan bekal, tak ia sentuh sama sekali. Usut punya usut, temannya memberikan makanannya untuknya. Jadi dia malah makan makanan temannya. Makanannya sendiri hanya dia buka, makan segigit, lalu ia biarkan begitu saja. Pagi itu, saya katakan bahwa saya takkan membawakan dia bekal. Dia tanya kenapa, jawab saya sebab percuma saya bawakan, toh hanya akan terbuang. Allah pasti sedih liat makanan terbuang begitu. Itu namanya membuang rizki Allah. Syukurlah, dialog kami mengena di hatinya. Dia berjanji untuk selalu memakan dan menghabiskan bekalnya sendiri. Dan ia janji akan berkata tidak n berterimakasih pd temannya yang memberikan makanannya pada si lanang. Daaan.. suda...

Neneknya hebat ya

Pagi itu kami sedang mengobrol di teras rumah Uti ketika ada seorang Nenek yang datang membawa dagangan berupa keset dan cempal. Beliau sudah tua dan seharusnya di rumah saja menikmati hari tua. Namun beliau masih mau bersusah payah mencari nafkah menjajakan kesetnya berkeliling. Kami minta ia masuk, kami siapkan air minum. Kami putuskan untuk membeli dagangannya. Bahagia rasanya hati melihat cerah senyuman si nenek. Ketika si nenek berlalu, si lanang yang sejak tadi mengamati dengan seksama pun bertanya "Tadi nenek minta-minta ya?" "Bukan kak, nenek tadi jualan keset kak untuk cari uang" "Oh kirain minta-minta, kan ga boleh ya minta aja ga kerja dulu" "Iya hebat ya si nenek? Walau sudah tua lebih memilih kerja daripada meminta. Itu untuk makan sehari-hari kak hasil jualannya. Begitulah cara kita mendapat uang seharusnya, bekerja dulu, berusaha dulu, baru kita punya uang" "Nanti aku kalau sudah besar, mau kerja ah, supaya uan...

Aku potong-potong dan aduk ya Bunda

Hari ini kami memasak kolak pisang untuk buka puasa papap dan Uti di rumah. Di siang hari itu, saya menawarkan si sulung kolak tersebut. Dia tidak mau, maka saya berniat memakannya. Saya bilang padanya bahwa kolaknya enak, manis, kuahnya enak, pisangnya enak, ubinya juga. Lalu, saya minta Faiq untuk mencoba kuahnya. Awalnya dia enggan, lalu akhirnya mau mencoba. "Enaaaak" Hahahah.. baru dia menyadari enaknya kolak. Lalu saya tawari makan bersama ubi dan pisangnya. Ternyata ia tidak mau, sudah masuk mulut, lalu ia keluarkan lagi. Dia bilang hanya mau kuahnya. Saya kabulkan permintaannya untuk menghabiskan kuahnya. Ternyata sepanjang prosesnya, dia mainkan juga isi kolaknya. Dipotong-potong dan dipenyet isinya. Lalu saya hampiri dia. "Apakah kakak akan memakan isi kolak ini kak?" "Aku nggak suka bunda" "Baiklah, tapi lalu apakah boleh isi kolaknua kamu jadi mainan?" "Aku kan gak makan kolaknya" "Apakah boleh maka...

Aku mau Kebab

Sore itu hujan turun cukup deras di daerah rumah ibu saya. Saya dan si sulung sedang bermain lego bersama, memaksimalkan waktu bersama kami yang berkualitas. Sebab, jika adiknya bangun dari tidur, kakak tahu saya pasti akan segera menghampiri adiknya. Lego yang saat ini ia mainkan adalah hasil Faiq menunggu sekian lama. Seperti biasa ada papan bintang yang saat itu harus ia isi penuh. Di saat terakhir, di waktunya vaksin MR, ayahnya dan saya menjanjikan total 5 bintang jika ia memberanikan diri untuk disuntik. Alhamdulillah ia jadi termotivasi. Dan ia lalui vaksin tersebut dengan baik. Insya Allah semoga membawa kebaikan dan kesehatan paripurna baginya.. aaamiin. Maka, diberilah 5 bintang itu padanya. Dan penuhlah papan bintangnya. Di hari Sabtu lalu itu, ia akhirnya membeli lego yang ia inginkan di toko bayi dekat rumah Uti, seharga Rp. 150.000 Nah, saat sedang asyik bermain tersebut, tiba-tiba si sulungku berujar, "Aku mau kebaab" Eh? Kok ya bisa ide itu terlintas...

Yuk menabung!

Masih dalam tema meraih keinginannya untuk membeli Thomas: Track Master, Faiq mulai menabung di sekolah Sebetulnya kegiatan menabung ini sudah kami mulai sejak ia berusia 2 tahunan. Faiq bahkan punya 3 kaleng tabungan miliknya sendiri. Kapanpun ada yg memberikan yang koin padanya, pasti akan segera ia masukan ke celengannya. Setiap hari ia membawa uang ke sekolah untuk ditabung. Faiq sebetulnya tidak benar-benar bersekolah, ia hanya ikut disana selama kami mengungsi di sini, sebab TKnya hanya sepelemparan batu dari rumah Uti. Dia mendadak muncul setiap hari ke sana karena ingin sepuasnya bermainn ayunan disana haahah Setiap hari dia minta saya membacakan buku tabungannya dan memberitahunya sudah berapa uang yg dia tabung. Berulang-ulang dia berkata, "Nanti kalau sudah 50 bintang, aku mau beli Track Master pakai uang tabunganku ya bunda" Oke siiip kakak! Semangat menabung yaa #KuliahBunsayiip #Tantangan10hari #Hari6 #Level8 #RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari ...

Papan Bintangku

Image
PAPAN BINTANG ala Faiq Sudah sejak lama, tepatnya saat Faiq berusia 2 tahun, kami menerapkan konsep papan bintang kepada Faiq. Faiq tidak serta merta mendapatkan mainan atau hal lain yang ia inginkan, apalagi jika harganya aduhai. Kami akan memintanya membuat papan bintang dan mengisinya penuh sebelum akhirnya keinginannya akan kami penuhi. Semakin mahal atau semakin berharga jenis barangnya, semakin banyak pula bintang yang harus ia raih. Bintang ia dapatkan jika ada kebaikan yang ia lakukan. Jenis kebaikannya biasanya sesuai dengan target perilaku yang sedang kami targetkan. Misalnya jika menyelesaikan pertikaian tanpa main tangan, atau bisa juga setiap dia ikut sholat dengan tertib bersama papapnya di mesjid. Kali ini ia begitu menginginkan salah satu seri permainan Thomas, yaitu Track Master. Target kami saat ini adalah agar ia dapat berinteraksi dengan temannya sebaik mungkin . Maka ia akan mendapat minimal 1 bintang jika ia mampu melewati hari itu dengan lancar. Kalaup...

Bismillah, ya Allah

Sore itu, tiba-tiba si sulung masuk ke rumah sembari membawa selebaran. "Bunda, aku mau pizza het!", teriaknya antusias. Hahahah dia selalu saja melafalkan pizza hut menjadi pizza het 😅😅 "Ini loh bunda, Faiq mau pizza sama puding coklat ini. Kalau yang ini apa ya? Aku juga mau yang ini" "Wah kak, kelihatannya enak sekali yaa semua" "Iyaaa, ayo kita beli sekarang!" "Sayangnya hari ini Bunda sedang tidak pegang uang kak, papap kan belum gajian. Nanti kalau papap sudah gajian, kita beli yaa?" "Aaah.. aku maunya sekarang, sekaraaang" "Walau kakak mau sekarangpun Bunda ndak bisa kabulkan kak, selain sedang tidak pegang uang, hari ini kan bunda sudah memasak di rumah. Kasihan dong makanannya tidak dimakan. Ingat kak, kakak hanya akan mendapatkan yang kakak butuhkan." "Huft, aku sedih banget, aku kan pingin pizza het." "Sedih sekali ya sayang? Cupcup.. bagaimana kalau ...

Count your blessings

Malam ini, sebagaimana malam-malam sebelumnya, saya dan si sulung melakukan "ritual" kecil kami sebelum tidur. Ritualnya dimulai dengan menyikat gigi bersama, lalu dilanjutkan dengan mengganti piyama sementara saya mengoleskan minyak kayu putih ke perut dan punggungnya. Selanjutnya saya dan Faiq akan masuk kamar, saya pun berbaring di sebelahnya sembari memeluknya. Lalu mulailah kami membaca doa tidur. Dilanjutkan dengan murojaah al-Fatihah dan al-Ikhlas. Hihi, iya, saya memang baru membiasakannya membaca 2 surat pendek tersebut sebelum tidur. Jika al-Ikhlas sudah dia kuasai, insya Allah akan saya lanjutkan dengan suroh al-Falaq, an-Naas dan surat pendek lainnya. Lalu dimulailah chit-chat kami sebelum tidur. Seperti biasa saya bertanya, "Kak, jadi apa saja yang membuat kakak bahagia hari ini?" "Hari ini aku senang bisa pergi sebentar dengan bunda berdua, nggak sama adik dan papap. Habis bunda sekarang seringnya sama adik sihh" "Hehe iya sa...

Allah turunkan hujan, dari gumpalan awan

Image
Ilustrasi foto Faiq mandi hujan saat masih di rumah kami Hari itu hawa panas begitu menyengat, bahkan di musim kemarau seperti saat ini yang terasa lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino. Duo bocah saya terlihat gelisah dengan hawa ini. "Ah," pikir saya, "sepertinya akan turun hujan sebentar lagi." Benar saja, menjelang sore turunlah hujan cukup lebat di daerah rumah Uti. Oh iya, sejak pertengahan Agustus lalu, kami sedang jadi pengungsi sementara di rumah Uti nya anak-anak (ibu saya). Rumah kami sedang dalam proses perbaikan hingga sekitar bulan Desember ini. Kembali lagi ke topik mengenai hujan, lalu saya berucap, "Allahumma Shoyyiban Naafi'an" Rupanya doa ini menggelitik benak si kakak. "Bunda ngaji apa sih?" Ohya, hahahaha, setiap dengar saya berdoa yang belum dia ketahui jenis doanya, dia pasti bilang kalau itu kalimat "ngaji" 😂😂 Segera saya jawab, "Itu doa kak. Doa yang kita baca saat hujan ...

Versi kami mengenai "cerdas" secara finansial

Image
Duo bocah di rumah kami baru berusia 4 tahun 3 bulan dan 2 bulan. Kami berharap, di masa dewasanya nanti, mereka dapat menjadi orang yang cerdas, dari berbagai aspek. Salah satunya adalah cerdas secara finansial. Tahapan- tahapan yang saat ini kami tempuh untuk mencapai tujuan ini ialah: 1. Membersamai anak dalam menghitung seluruh kenikmatan yang ia terima di setiap harinya. Karena rizki Allah di bumiNya begitu banyak hingga kita jarang menyadarinya. Tahapan ini pun terkait dengan menumbuhkan kecintaannya terhadap Allah SWT, sesuai fitrah imannya. 2. Selanjutnya, sedini mungkin, kami mendidik anak untuk mengetahui beda antara kebutuhan dan keinginan. Mulai dari hal kecil 3. Selanjutnya, jika ada hal yang ingin didapatkan/dibeli oleh si kecil, kami tidak membiasakannya untuk segera membelikannya. Anak harus melewati suatu tahap untuk mendapatkannya. Cara kami adalah melalui pengumpulan bintang. Kurang lebih inilah tahap yang sedang kami jalani saat ini bersama duo kecil ...