Jurnal Puasa 1: Bisakah aku menahan emosi?

Dengan segala keriuhan hadirnya pandemi COVID-19 ini, saya memutuskan untuk tetap waras menghadapi semuanya. Termasuk menghadapi duo bocah kelebihan energi yang tidak diperbolehkan pergi mazc in ke luar batasan pagar rumah.

Energi luar biasa mereka, seringnya memicu emosi saya dalam keseharian. Entah karena saya, seorang ekstrovert, yang juga bosan karena tidak bisa pergi kemana-mana dalam masa karantina ini. Atau memang ada hal lain yang membuat saya menjadi mudah terpancing untuk meluapkan emosi secara spontan.

Saya sadar sekali, hal ini dapat menghambat mimpi saya menjadi seorang "Amazing Angie". Oleh karena itu selama 7 hari kemarin saya bertekad puasa dari meluapkan emosi dengan cara yang kurang tepat pada anak-anak.

Berikut ini hasilnya:



Ada 2 momen dimana saya merasakan penyesalan teramat dalam karena telah meluapkan emosi secara tidak tepat pada anak saya.

Yang pertama saat hari itu, anak bungsu saya yang sedang toilet training, mengalami kemunduran dalam prosesnya. Yang biasanya hanya bocor mengompol 1-2x saja, saat itu seharian dia tidak bilang sama sekali saat pipis dan pup. Saat itu pula saya sedang sumbilangeun di hari pertama tamu bulanan. Belum lagi asisten rumah tangga yang memang saya liburkan. Ya Allah, sungguh cobaan berat. I have to do something about this, next time. Agar saha tidak lagi terjatuh dalam lubang yang sama

Penyesalan yang kedua adalah saat saya hendak merekam video hapalan surat kakak untuk dikirim ke gurunya sebagai tugas pekanan. Ya Allah, ada saja kendalanya saat itu, dan kok ya saya seperti suliiit sekali versabar saat itu

Malamnya saya peluk kedua anak saya, saya seharusnya bisa lebih bersabar dalam mendampingi mereka :(

Semoga saya tidak lagi terjatuh ke lubamg yang sama

Comments

Popular posts from this blog

Ke Stasiun Cilebut

Kurang garaaam!

Aku Suka Lem!!