Putuskan, mana keadaan yang kau pilih?
Dalam pembahasan review di kelas bunsay kami kemarin mengenai materi berpikir kreatif, terlihat jelas bahwa hadirnya kreativitas berada dalam level tertinggj dalam strata high order thinking.
Kreatif dapat berarti kegiatan mental seseorang untuk dapat membangun ide dan gagasan yang baru. Jelas ini strata tertinggi dalam penjabaran Revised Blooms Taxonomy. Tingkatan berpikir tingkat tingginya bisa dilihat dalam ilustrasi berikut yang saya ambil dari pinterest:
Daaan.. seorang ibu profesional diharapkan dapat mendorong anaknya berpikir kreatif dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan level berpikir tinggi yang akhirnya merangsang anak untuk berpikir tinggi.
PR saya membiasakan diri melakukan semua hal tersebut.
Anywaaay... Sesungguhnya saya yakin fitrah anak lah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bagus dengan rasa keingintahuannya dan membuat orangtua kewalahan menjawabnya. Sayangnya kadang saya (kami) sebagai orangtualah yang memadamkan fitrahnya dengan menyepelekan, menertawakan dan mengabaikan rasa ingin tahu mereka. 😫😫
Karena itulah, saya berusaha keras untuk selalu menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Faiq, betapapun konyolnya itu terdengar.
Seperti kegiatan kami kemarin, saat saya menemani Faiq beraktivitas dengan buku wipe and clean nya yang bertema hewan liar dan jinak.
Ada satu aktivitas dimana Faiq diminta menarik garis dari gambar seekor Elang ke jenis makanan yang dia makan.
Ada 3 pilihan: telur mata sapi, rumput dan anak ayam. Faiq butuh waktu lamaaaa sekali, dan saya hampir senewen dibuatnya. Saya pikir, masa iya sih Faiq nggak bisa mengira jawabannya?
Setelah sekian lama mengrenyit, Faiq pun bilang, " Bunda, Elang makan rumput aja deh."
Saya jawab, "Makan rumput? Mengapa demikian kak?"
"Aku kasihan bunda, sama ayamnya, nanti kalau dimakan, dia bisa mati. Kasian nanti bundanya nyariin dia, gimana? Nanti bundanya sedih. Bunda mau nggak aku hilang dari bunda? Hayo, emangnya bunda nggak sedih?"
Wah, terus terang penjelasan ini diluar ekspektasi saya. Saya mencari cara untuk menjawab pertanyaannya.
"Kak, Elang kan gak makan rumput. Kalau ayamnya nggak boleh dimakan, ayamnya hidup sih, tapi Elangnya mati kak. Padahal jumlah Elang di bumi ini lebih sedikit dari jumlah ayam. Jadi, bagaimana menurut kakak? Elangnya makan yang mana nih?"
Kembali dia berpikir keras. Saya sungguh menunggu jawaban akhir dari proses berpikirnya.
Kemudian akhirnya dia menjawab, "Aku tetap nggak bolehkan Elangnya makan anak ayam bun. Sebagai gantinya aku kasih tikus aja deh, tikus kan suka ngerusak bun dan bikin penyakit kan kata bunda? Elang suka makan tikus nggak?"
"Emm.. suka sih kak"
"Yeay yeayyy anak ayamnya selamaaat"
Ahhh mau bilang ga ada pilihan tikus di bukunya kok saya nggak tega ya? Jadi seperti membatasi proses berpikirnya 🤔
Ah sudahlah.. mungkin lain kali akan kami bahas lagi. Yang penting, dia antusias mencari jalan keluar yang terbaik dari permasalahan yang dia temui 😍
Hopefully bisa sejalan dengan quote dari Albert Einstein berikut:
Alhamdulillah, Robbi habli minasshoolihiin..
#berpikirkreatif
#level9
Kreatif dapat berarti kegiatan mental seseorang untuk dapat membangun ide dan gagasan yang baru. Jelas ini strata tertinggi dalam penjabaran Revised Blooms Taxonomy. Tingkatan berpikir tingkat tingginya bisa dilihat dalam ilustrasi berikut yang saya ambil dari pinterest:
Daaan.. seorang ibu profesional diharapkan dapat mendorong anaknya berpikir kreatif dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan level berpikir tinggi yang akhirnya merangsang anak untuk berpikir tinggi.
PR saya membiasakan diri melakukan semua hal tersebut.
Anywaaay... Sesungguhnya saya yakin fitrah anak lah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bagus dengan rasa keingintahuannya dan membuat orangtua kewalahan menjawabnya. Sayangnya kadang saya (kami) sebagai orangtualah yang memadamkan fitrahnya dengan menyepelekan, menertawakan dan mengabaikan rasa ingin tahu mereka. 😫😫
Karena itulah, saya berusaha keras untuk selalu menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Faiq, betapapun konyolnya itu terdengar.
Seperti kegiatan kami kemarin, saat saya menemani Faiq beraktivitas dengan buku wipe and clean nya yang bertema hewan liar dan jinak.
![]() |
| Buku Wipe and Clean yang kami gunakan |
Ada satu aktivitas dimana Faiq diminta menarik garis dari gambar seekor Elang ke jenis makanan yang dia makan.
Ada 3 pilihan: telur mata sapi, rumput dan anak ayam. Faiq butuh waktu lamaaaa sekali, dan saya hampir senewen dibuatnya. Saya pikir, masa iya sih Faiq nggak bisa mengira jawabannya?
Setelah sekian lama mengrenyit, Faiq pun bilang, " Bunda, Elang makan rumput aja deh."
Saya jawab, "Makan rumput? Mengapa demikian kak?"
"Aku kasihan bunda, sama ayamnya, nanti kalau dimakan, dia bisa mati. Kasian nanti bundanya nyariin dia, gimana? Nanti bundanya sedih. Bunda mau nggak aku hilang dari bunda? Hayo, emangnya bunda nggak sedih?"
Wah, terus terang penjelasan ini diluar ekspektasi saya. Saya mencari cara untuk menjawab pertanyaannya.
"Kak, Elang kan gak makan rumput. Kalau ayamnya nggak boleh dimakan, ayamnya hidup sih, tapi Elangnya mati kak. Padahal jumlah Elang di bumi ini lebih sedikit dari jumlah ayam. Jadi, bagaimana menurut kakak? Elangnya makan yang mana nih?"
Kembali dia berpikir keras. Saya sungguh menunggu jawaban akhir dari proses berpikirnya.
Kemudian akhirnya dia menjawab, "Aku tetap nggak bolehkan Elangnya makan anak ayam bun. Sebagai gantinya aku kasih tikus aja deh, tikus kan suka ngerusak bun dan bikin penyakit kan kata bunda? Elang suka makan tikus nggak?"
"Emm.. suka sih kak"
"Yeay yeayyy anak ayamnya selamaaat"
Ahhh mau bilang ga ada pilihan tikus di bukunya kok saya nggak tega ya? Jadi seperti membatasi proses berpikirnya 🤔
Ah sudahlah.. mungkin lain kali akan kami bahas lagi. Yang penting, dia antusias mencari jalan keluar yang terbaik dari permasalahan yang dia temui 😍
Hopefully bisa sejalan dengan quote dari Albert Einstein berikut:
Alhamdulillah, Robbi habli minasshoolihiin..
#berpikirkreatif
#level9



Comments
Post a Comment