Berbuat baik: penenang jiwa dan pengabul doa

3 kebaikan harus kubagi ceritanya disini. Aduhaii, sesungguhnya tak elok lah menceritakan kebaikan diri di muka umum. Tapi tulisan ini menjadi tugas pertamaku di kelas habituasi SC., maka tak pelak lagi lah kukerjakan tulisan ini.

Semua bermula di hari kamis lalu. Saat itu cuaca syahdu sekalii, hujan di malam menjelang pagi. Brrr, agak menggigil kurasa.

Ting ting
Aihh tukang bubur ayam langganan sudah lewat rupanya. Kayaknya asyik nih dingin begini melahap semangkuk bubur ayam hangat.

Langsung kuraih kerudung berlenganku dan kukejar si akang. Karena gerimis, malas sekali keluar pagar. Jadilah ku nangkring disana. 2 mangkuk bubur kupesan; 1 mangkuk untukku, selebihnya utk si bungsu.

Tak sengaja dr sudut mata kulihat bapak satpam kami di posnya, syahdu sekali rupanya menghayati rintik hujan.

Aihhh semoga pak satpam sudah makan ya, dingin begini kan enak makan bubur.

Lalu entah darimana tiba-tiba rentetan kalimat keluar dr mulutku ini, memanggil kang bubur yang tengah bersiap pergi.

Kuberikan sejumlah uang dan instruksi untuknya. Segera kang bubur pergi meninggalkanku, kulihat ia berhenti di pos satpam.

Aku segera masuk kembali ke rumah. Hatiku terasa hangat dan penuh, padahal belum ada bubur masuk perutku.

Ahh, pasti saat ini pak satpam juga sedang merasakan kehangatan bubur dari kang bubur ayam, sama sepertiku. Sedikit tanda terimakasihku untuknya yang telah siang-malam menjaga komplek kami.

========================================

Si sulungku akhir-akhir ini sering sekali mengeluhkan betapa adiknya mendominasi kasih sayang bunda dan papapnya.

"Aku tuh cuma ingin bisa tidur dipeluk bunda semalaman, bukan cuma sebentar."

Aih  kaaaak.. Kalau bisa mah kalian berdua sepanjang malam kupeluk. Apa daya adiknya sungguh posesif. Bahkan di tengah malampun bisa dia cek dimana aku, harusss nempelll terus badannya dengan tubuhku.

Di suatu malam, di jumat kemarin, entah bagaimana, adiknya tertidur sangat awal. Mungkin karena kami pergi berbelanja hingga larut dan dilanjutkan dengan membereskan rumah sebelum tidur.

Kubisikkan kalimat ini pada si sulung, "Kak,bobo sama bunda, yuk! Bunda peluk yaa"

Aihhhh matanya berbinar, senyum terkembang lebar. Lengannya memelukku erat dan berkata, "bunda kenapa sih, lembuut dan hangaaat selalu. Makasih ya bunda, aku senang bisa tidur dipeluk bunda."

Duh, kakaaaaakkkk hal sepele begini kok bisa bikin kamu berbinar sihhh. Bunda juga merasa hangat hati karena ini, kak. I love you ❤

Jelaslah sudah, memberikan pelukan adalah juga suatu kebaikan.

==============≠=========================

Namanya Udin, Zaenudin tepatnya. Ia temanku di SD, 25 tahun yang lalu.

Ia anak yang sungguh baik, sopan, dan teramat miskin.

Iya, miskin. Meski teriris hatiku saat menuliskan kata itu, tapi tak ada kata lain yang kurasa cocok menggambarkan keadaannya.

Tak ada teman kami yang bisa memungkiri kebaikan dan kesopanannya. Tak ada diantara kami yang tega merundungnya. Entahlah, mungkin saja ada yang merundungnya karena keadaan ekonominya tanpa sepengetahuanku.

Yang jelas kuingat, sejak dulu aku sudah iba padanya, pun dengan ibuku.
Kuingat betapa ibuku memperhatikan keaejahteraan Udin. Diberinya Udin uang jajam, dibayarnya uang sekolah Udin dan disiapkannya pula peralatan sekolah tiap kenaikan kelas.

Lulus SD, tak kudengar lagi kabarnya.

Hingga hari jumat kemarin.

Admin grup SD kami memasukkan nomor WAnya ke dalam grup.

Sukacita kusapa dia. Aih tetap sopan sebagaimana biasanya. Kuduga keadaan finansialnya sudah membaik setelah 25 tahun tak bersua.

Lalu pagi ini kudengar berita yang sungguh tak sesuai harapanku. Udin masih harus bertahan dengan keadaan ekonomi rumah tangganya.

Ia beristri dan punya 2 anak lelaki.

Kutanya temanku yang kemarin bertwmu dengannya. Lancar ia ceritakan kondisi Udin.

"Kasian udin, mak. Dia punya warung kecil, dan disitu pula dia tinggal sengan iatri dan anaknya. Jangan bayangin ruko ya, warung sepetak. Dan di petak itu pula keluarganya hidup. Mau borong jualannya tapi bingung. Cuma jual aqua gelas, sama rokok. Rokok pun ga lengkap. Katanya belum ada modalnya."

Kutarik napas panjang mendengarnya.
Temanku terus saja melanjutkan dongengnya.

"Dia mah masih bageur pisan, tapi bener kasian banget gue lihat keadaan dia, mak. Sedih."

Aduhhh, hati sungguh teriris mendengarnya. Orang baik begitu, kupikir sudah terangkat derajat hidupnya setelah puluhan tahun. Namun mungkin dalam keprihatinan inilah jalan surganya.

Kuceritakan ini pada suamiku, ibuku dan adikku.

Saat itu aku, suami dan anak-anak sedang berakhir pekan di sebuah tempat bermain anak. Aku minta ijin suamiku untuk datang ke warung Udin sembari membawa sedikit oleh-oleh.

Kulangkahkan kaki ke sebuat resto makanan cepat saji. Kubeli paket lengkap dengan berbagai menu yang bisa diicip dan yang biasanya disukai bocah. Tak lupa kubelikan 2 es krim untuk anakku dan tak lama suamiku datang dan menginstruksikan untuk juga membeli 3 paket makanan juga untuk pak satpam di komplek.

Tak buang waktu, kami meluncur ke warung udin berbekal peta dan foto kiriman temanku.

Ndilalah tak ada Udin disana, kutemui istrinya. Kuberikan oleh-oleh bawaanku dan kusalami istrinya. Kami berbincang sejenak di warung/rumah kecilnya itu. Istri dan anaknya sedang demam, katanya. Ku tak lama disana, maghrib hampir menjelang.

Kupeluk istrinya, kuberikan sedikit pegangan siapa tahu perlu berobat. Lalu segera pergi dengan tatapan haru dari istrinya.

Ah aku langsung ambil langkah seribu, takut keburu nangis. Malu dilihat orang hahahah

Kucek aplikasi WA-ku. Adikku mau transfer uang, katanya. Ia minta bantuanku membelikan barang untuk mengisi warungnya Udin. Sedih pula rupanya dia mendengar ceritaku.

Aku dan adikku selalu kompak urusan beginian, jadi sudah kumengerti dia juga akan turut ambil bagian disini.

Tak lama teman-teman SDku juga ramai di grup, membicarakan program "Save Udin". Kami akan berkolaborasi membantu Udin agar nantinya bisa berdikari.

Semakin senang hatiku, terharu pula melihat antusiasme teman-teman.

Tak lama ada telepon dari Udin, via WA temanku yang lain yang sedang datang kr warungnya. Berkali-kali dia ucapkan terimakasih.
Katanya, " Gue tuh bingung neng, gimana caranya balas jasa sama elu dari dulu."

Ya Allah, sudah kutahan-tahan sejak tadi, akhirnya ambrol juga pertahananku, air mata turun tak bisa terbendung.

"Apa sih diiin, gw ga ngapa-ngapain, cuma bawa makanan buat anak-anak"

Kucari alasan untuk tutup telepon, takut makin deras air matanya.

Andai Udin tahu, aku belajar banyak darinya. Belajar sabar, ikhlas dan konsisten jadi orang baik yang semoga Allah ridhoi.

Hangat hati, membuncah rasanya.

Doakan proyek  kami sukses, ya!


#materi1
#habituasisejutacinta
#empati
#ibuprofesional

Comments

Popular posts from this blog

Ke Stasiun Cilebut

Kurang garaaam!

Aku Suka Lem!!