Desa si Wortel (Ayo Cegah Banjir!)
Tim Sejuta Cinta dari IIP Bogor sedang gencar merilis program bantuan untuk para korban banjir di DI Yogyakarta dan Pacitan. Alhamdulillah responnya sungguh luar biasa dari para anggota.
Saya tentu saja menjadi satu dari banyak orang yang turut prihatin dengan adanya musibah banjir ini. Sebagai penduduk Bogor, kami sudah terbiasa mendengar Bogor disebut sebagai pengirim banjir ke Jakarta. Walau, tentu saja, selain masalah alih fungsi kawasan puncak, ada banyak penyebab lain yang dapat menyebabkan kebanjiran di ibukota.
Kakak Faiq sudah tahu tentang adanya bencana si Yogya dan Pacitan. Saya sempat memperlihatkan video sebuah sekolah yang terendam banjir dan lumpur setelah banjir surut. Betapa sedihnya kakak-kakak itu tak bisa bersekolah karena sekolahnya terendam lumpur.
Faiq selalu saja berapi-api menanggapi berita banjir. Entah mengapa dia sangat excited dengan berita banjir. Dia berapi-api juga menyatakan betapa itu semua kesalahan para manusia yang buang sampah sembarangan hingga menyebabkan banjir.
Akhirnya, malam itu, dongeng sebelum tidurnya disponsori oleh berita banjir yang terjadi. Berikut ceritanya:
Di suatu desa, tinggalah seekor koala yang bernama Koli. Dia tinggal bersebelahan dengan temannya sang komodo yang bernama Komi.
Pagi itu Komi sedang berkunjung ke rumah Koli untuk menyantap sarapan bersama. Komi asyik memakan daging sementara Koli mengunyah daun ekaliptus. Mereka asyik sekali membicarakan berita-berita yang menarik dari negeri seberang.
Tak seberapa lama, ada sebatang wortel tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Ia terlihat lusuh dan lelah. Ia tak membawa apapun kecuali memanggul tas kecil.
"Loh, itu kan Keri si Wortel. Dia temanku dari desa sebelah. Ada apa dengan dia, terlihat berantakan sekali!"
"Wah, temanmu? Kalau begitu panggillah dia, Koli, kasihan sekali nampaknya dia butuh bantuan."
"Baiklah. Hei Keriiii... KERIII... Coba menoleh ke belakangmu. Ini aku Koli temanmu."
Lalu si wortel berbalik dan terlihat matanya berbinar. Setengah berlari ia menghampiri Koli dan Komi.
"Koliiiii... Alhamdulillah aku bertemu engkauu.. memang niatku kesini mencarimu, tapi aku kan belum pernah ke rumahmu huhuhu"
"Eh eh mengapa kau menangis? Sini sini duduk dulu disini. Akan kuambilkan air untukmu sebentar."
Keri duduk, tak lama Koli keluar membawakan air untuk Keri.
"Apa yang terjadi padamu, Keri?" lanjut Koli sembsri menaruh minuman di meja.
"Kau ingat desaku tidak?"
"Tentu saja, desamu indaah sekali, seluruh penduduknya suka berkebun.. duh sudah lama aku tak kesana. Memang sda apa?"
"Desaku kini hancuuur, Koli. Semua rata oleh lumpur. Kami kebanjiran besaar."
"Loh, kok bisa? Kan desamu asri begitu"
"Itu 2 tahun lalu, saat kau berkunjung ke rumahku. Namun setahun setelahnya, keadaan desa berubah total! Bahkan aku tak bisa mengendaliksnnya."
"Ada apa sih mrmangnya?"
"Entah bagaimana, penduduk di desa ku mulai membuang sampah sembarangan. Di sungai, di jalan, di selokan, dimana-mana pokoknya, kecuali di tempat sampah. Sudah kucoba ingatkan, tapi selalu berkilah kalau desa itu asri, sampah yang sedikit ini takkan membahayakan"
"Lalu?" tanya Komi penasaran.
"Ealaaa.. lupa ngenalin tetanggaku ke kamu, keri. Kenalkan ini Komi si komodo, tetangga sebelah rumahku."
"Hai Komi, salam kenal. Nah lama krlamaann desaku semakin kotor. Sungai dan selokan terlihat mampet oleh sampah. Sampai jijik aku melihatnya. Lalu 2 minggu lalu kan mulai masuk musim hujan ya? Kalian merasakan sendiri kan, hujan dari pagi sampai malam hari non-stop. Dan tepat 2 hari lalu, desaku dilanda banjir yang begitu parahnya hingga merusak kebun-kebun serta rumah yang ada."
"Ohh.. jadi maksudmu sampah2 itu yang membuat banjir?"
"Ya tentu saja, sampah2 itu memenuhi selokan dan sungai, jadi air hujan tak bisa mengalir dengan leluasa. Akhirnya banjir deh. Aku tak ada tempat bernaung. Lalu teringat ada Koli di desa ini."
"Keri, silakan kamu tinggal beesamaku. Aku dengan senang hati akan menerimamu."
"Terimakasih Koli. Dan teman-teman, ingat peekataanku ini ya. Pastikan kalian buang sampah di tempatnya, jangan sembarangan. Kalian pasti akan menyesal jika kejadian yg kualami juga menimpa kalian."
"Ya, Keri, " lanjut Komi, "terimakasih sudah mengingatkan kami untuk hidup beesih yaa."
Lalu semangatlah si kakak untuk memastikan ia takkan buang sampah sembarangan agar tidak kebanjiran.
Selamat malam, kak 😘
#Tantangan10Hari
#Hari6
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Saya tentu saja menjadi satu dari banyak orang yang turut prihatin dengan adanya musibah banjir ini. Sebagai penduduk Bogor, kami sudah terbiasa mendengar Bogor disebut sebagai pengirim banjir ke Jakarta. Walau, tentu saja, selain masalah alih fungsi kawasan puncak, ada banyak penyebab lain yang dapat menyebabkan kebanjiran di ibukota.
Kakak Faiq sudah tahu tentang adanya bencana si Yogya dan Pacitan. Saya sempat memperlihatkan video sebuah sekolah yang terendam banjir dan lumpur setelah banjir surut. Betapa sedihnya kakak-kakak itu tak bisa bersekolah karena sekolahnya terendam lumpur.
Faiq selalu saja berapi-api menanggapi berita banjir. Entah mengapa dia sangat excited dengan berita banjir. Dia berapi-api juga menyatakan betapa itu semua kesalahan para manusia yang buang sampah sembarangan hingga menyebabkan banjir.
Akhirnya, malam itu, dongeng sebelum tidurnya disponsori oleh berita banjir yang terjadi. Berikut ceritanya:
Di suatu desa, tinggalah seekor koala yang bernama Koli. Dia tinggal bersebelahan dengan temannya sang komodo yang bernama Komi.
Pagi itu Komi sedang berkunjung ke rumah Koli untuk menyantap sarapan bersama. Komi asyik memakan daging sementara Koli mengunyah daun ekaliptus. Mereka asyik sekali membicarakan berita-berita yang menarik dari negeri seberang.
Tak seberapa lama, ada sebatang wortel tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Ia terlihat lusuh dan lelah. Ia tak membawa apapun kecuali memanggul tas kecil.
"Loh, itu kan Keri si Wortel. Dia temanku dari desa sebelah. Ada apa dengan dia, terlihat berantakan sekali!"
"Wah, temanmu? Kalau begitu panggillah dia, Koli, kasihan sekali nampaknya dia butuh bantuan."
"Baiklah. Hei Keriiii... KERIII... Coba menoleh ke belakangmu. Ini aku Koli temanmu."
Lalu si wortel berbalik dan terlihat matanya berbinar. Setengah berlari ia menghampiri Koli dan Komi.
"Koliiiii... Alhamdulillah aku bertemu engkauu.. memang niatku kesini mencarimu, tapi aku kan belum pernah ke rumahmu huhuhu"
"Eh eh mengapa kau menangis? Sini sini duduk dulu disini. Akan kuambilkan air untukmu sebentar."
Keri duduk, tak lama Koli keluar membawakan air untuk Keri.
"Apa yang terjadi padamu, Keri?" lanjut Koli sembsri menaruh minuman di meja.
"Kau ingat desaku tidak?"
"Tentu saja, desamu indaah sekali, seluruh penduduknya suka berkebun.. duh sudah lama aku tak kesana. Memang sda apa?"
"Desaku kini hancuuur, Koli. Semua rata oleh lumpur. Kami kebanjiran besaar."
"Loh, kok bisa? Kan desamu asri begitu"
"Itu 2 tahun lalu, saat kau berkunjung ke rumahku. Namun setahun setelahnya, keadaan desa berubah total! Bahkan aku tak bisa mengendaliksnnya."
"Ada apa sih mrmangnya?"
"Entah bagaimana, penduduk di desa ku mulai membuang sampah sembarangan. Di sungai, di jalan, di selokan, dimana-mana pokoknya, kecuali di tempat sampah. Sudah kucoba ingatkan, tapi selalu berkilah kalau desa itu asri, sampah yang sedikit ini takkan membahayakan"
"Lalu?" tanya Komi penasaran.
"Ealaaa.. lupa ngenalin tetanggaku ke kamu, keri. Kenalkan ini Komi si komodo, tetangga sebelah rumahku."
"Hai Komi, salam kenal. Nah lama krlamaann desaku semakin kotor. Sungai dan selokan terlihat mampet oleh sampah. Sampai jijik aku melihatnya. Lalu 2 minggu lalu kan mulai masuk musim hujan ya? Kalian merasakan sendiri kan, hujan dari pagi sampai malam hari non-stop. Dan tepat 2 hari lalu, desaku dilanda banjir yang begitu parahnya hingga merusak kebun-kebun serta rumah yang ada."
"Ohh.. jadi maksudmu sampah2 itu yang membuat banjir?"
"Ya tentu saja, sampah2 itu memenuhi selokan dan sungai, jadi air hujan tak bisa mengalir dengan leluasa. Akhirnya banjir deh. Aku tak ada tempat bernaung. Lalu teringat ada Koli di desa ini."
"Keri, silakan kamu tinggal beesamaku. Aku dengan senang hati akan menerimamu."
"Terimakasih Koli. Dan teman-teman, ingat peekataanku ini ya. Pastikan kalian buang sampah di tempatnya, jangan sembarangan. Kalian pasti akan menyesal jika kejadian yg kualami juga menimpa kalian."
"Ya, Keri, " lanjut Komi, "terimakasih sudah mengingatkan kami untuk hidup beesih yaa."
TAMAT
Lalu semangatlah si kakak untuk memastikan ia takkan buang sampah sembarangan agar tidak kebanjiran.
Selamat malam, kak 😘
#Tantangan10Hari
#Hari6
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Comments
Post a Comment