Kura-kura yang malas makan
Hari itu, entah mengapa kakak susaaaah sekali makan nasi dan lauk-pauknya. Seharian hanya bolak-balik buka kulkas untuk ambil ultra mimi putihnya dan sesekali makan biskuit kelapa favoritnya.
Saya terus terang sangat khawatir saat ini terjadi, sebab faiq agak sensitif pencernaannya. Jika sehari saja tidak makan sayur, pasti malamnya dia mules.
Duh harus putar otak nih gimana caranya agar dia mau makan sebelum jam makan malam tiba.
Akhirnya sore setelah mandi saya ajak dia mendengarkan dongeng saya. Tentu saja dia tak menolak, sejak kecil memang dia sangat suka didongengkan atau dibacakan cerita.
Di sebuah desa, tinggalah seekor kura-kura bernama Turti. Ia kura-kura hijau besaaaaar. Rumahnya selalu ia bawa kemanapun dia berada.
Saat itu, musim dingin hampir tiba. Seluruh hewan yang tinggal di desa sibuk memakan dan mengumpulkan makanan untuk bekal musim dingin.
Hanya Turti yang terdiam tanpa melakukan apapun.
Ini menimbulkan tanda tanya bagi Anti, si semut yang tinggal di dekat rumah Turti.
"Turti, kulihat kau sejak tadi berdiam diri, sementara kami sibuk makan dan mengumpulkan makanan untuk musim dingin. Tidakkah kau lapar?"
"Ah aku malas sekali makan dan cari makan. Rasanya berat membawa rumah ini kemana-mana. Lebih baik aku tidur dan bermain, malas makan."
"Wah.. hati-hati ah, jangan malas makan, nanti perutmu sakit"
"Ah perutku kuat kok, tuh lihat, keras kan? Tapi terimakasih ya atas perhatianmu"
Hari pun berlalu, Turti masih enggan beranjak dari tempatnya. Tepat di hari ke-2 itu dia merasakan sakit teramat sangat di perutnya. Meliliiiit sekali rasanya. Keringat bermunculan membasahi tubuh dan rumahnya.
Tapi dia lihat sudah tak ada lagi yang lalu lalang di sekelilingnya. Nampaknya semua hewan sudah selesai menyiapkan makanan untuk melewati musim dingin, dan benar saja, salju mulai turun.
Turti sungguh tak tahan dengan rasa sakit dan laparnya. Lalunia menyeret tubuh dan rumahnya ke rumah Anti si semut. Beberapa kali ia mengetuk pintu rumah Anti, akhirnya muncullah anti dihadapannya.
"Turti, ada apa kau datang kesini? Eh mengapa kau berkeringat begitu? Ayo sini sini masuk, tapi maaf rumahku sempit, ini penuh dengan makanan selama musim dingin ini"
Di dalam, Turti bercerita tentang lapar dan sakitnya perutnya sambil terisak. Dia mengakui kebodohannya yang tidak makan ataupun mengumpulkan makanan hanya karena rasa malasnya.
Dengan baik hati, Anti mau membagi persediaan musim dinginnya dengan Turti. Turti merasa jauh lebih baik setelah makan. Dalam hati, ia berjanji takkan lagi bersikap seperti kemarin.
Saat saya selesai mendongeng, Faiq seperti berpikir. Cukup lama hingga akhirnya ia bicara, "Bunda,, aku mau makan dong, lapar"
Saya tersenyum dan tanpa kata mengambilkan sepiring nasi dan lauk-pauk untuknya
#Tantangan10Hari
#hari4
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Saya terus terang sangat khawatir saat ini terjadi, sebab faiq agak sensitif pencernaannya. Jika sehari saja tidak makan sayur, pasti malamnya dia mules.
Duh harus putar otak nih gimana caranya agar dia mau makan sebelum jam makan malam tiba.
Akhirnya sore setelah mandi saya ajak dia mendengarkan dongeng saya. Tentu saja dia tak menolak, sejak kecil memang dia sangat suka didongengkan atau dibacakan cerita.
Kura-kura yang Malas Makan
Di sebuah desa, tinggalah seekor kura-kura bernama Turti. Ia kura-kura hijau besaaaaar. Rumahnya selalu ia bawa kemanapun dia berada.
Saat itu, musim dingin hampir tiba. Seluruh hewan yang tinggal di desa sibuk memakan dan mengumpulkan makanan untuk bekal musim dingin.
Hanya Turti yang terdiam tanpa melakukan apapun.
Ini menimbulkan tanda tanya bagi Anti, si semut yang tinggal di dekat rumah Turti.
"Turti, kulihat kau sejak tadi berdiam diri, sementara kami sibuk makan dan mengumpulkan makanan untuk musim dingin. Tidakkah kau lapar?"
"Ah aku malas sekali makan dan cari makan. Rasanya berat membawa rumah ini kemana-mana. Lebih baik aku tidur dan bermain, malas makan."
"Wah.. hati-hati ah, jangan malas makan, nanti perutmu sakit"
"Ah perutku kuat kok, tuh lihat, keras kan? Tapi terimakasih ya atas perhatianmu"
Hari pun berlalu, Turti masih enggan beranjak dari tempatnya. Tepat di hari ke-2 itu dia merasakan sakit teramat sangat di perutnya. Meliliiiit sekali rasanya. Keringat bermunculan membasahi tubuh dan rumahnya.
Tapi dia lihat sudah tak ada lagi yang lalu lalang di sekelilingnya. Nampaknya semua hewan sudah selesai menyiapkan makanan untuk melewati musim dingin, dan benar saja, salju mulai turun.
Turti sungguh tak tahan dengan rasa sakit dan laparnya. Lalunia menyeret tubuh dan rumahnya ke rumah Anti si semut. Beberapa kali ia mengetuk pintu rumah Anti, akhirnya muncullah anti dihadapannya.
"Turti, ada apa kau datang kesini? Eh mengapa kau berkeringat begitu? Ayo sini sini masuk, tapi maaf rumahku sempit, ini penuh dengan makanan selama musim dingin ini"
Di dalam, Turti bercerita tentang lapar dan sakitnya perutnya sambil terisak. Dia mengakui kebodohannya yang tidak makan ataupun mengumpulkan makanan hanya karena rasa malasnya.
Dengan baik hati, Anti mau membagi persediaan musim dinginnya dengan Turti. Turti merasa jauh lebih baik setelah makan. Dalam hati, ia berjanji takkan lagi bersikap seperti kemarin.
TAMAT
Saat saya selesai mendongeng, Faiq seperti berpikir. Cukup lama hingga akhirnya ia bicara, "Bunda,, aku mau makan dong, lapar"
Saya tersenyum dan tanpa kata mengambilkan sepiring nasi dan lauk-pauk untuknya
#Tantangan10Hari
#hari4
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination
Comments
Post a Comment